Kajian wag harian 22 Dzulhijjah 1447H
*MALU 1* (08-06-'26)
*فَجَاۤءَتۡهُ إِحْدَاهُمَا تَمۡشِی عَلَى ٱسۡتِحۡیَاۤءࣲ قَالَتۡ إِنَّ أَبِی یَدۡعُوكَ لِیَجۡزِیَكَ أَجۡرَ مَا سَقَیۡتَ*
Alqoshosh, 28:25
Kemudian datanglah kepada *Musa* salah seorang dari kedua perempuan itu (*Syafura*, putri nabi Syu'aib) berjalan dengan *malu²*, dia berkata, sesungguhnya *ayahku* mengundangmu untuk memberi balasan sebagai *imbalan* atas (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.
Kata orang bijak :
*Malu* sejati adalah ketika kita merasa malu pada *diri* sendiri saat melakukan kesalahan yang tidak *diketahui* orang lain.
(*True modesty is feeling ashamed before oneself for a mistake hidden from the eyes of others*.
*الحَيَاءُ الحَقِيقِيُّ هُوَ أَنْ نَشْعُرَ بِالخَجَلِ مِنْ أَنْفُسِنَا عِنْدَمَا نَرْتَكِبُ خَطَأً لَا يَعْلَمُهُ أَحَدٌ غَيْرُنَا*).
① Jangan pernah *malu* karena hidup sederhana; malulah ketika kita *ber-pura²* kaya demi mendapatkan *pujian* yang semu.
② Rasa *malu* adalah benteng terakhir dari akhlak manusia; jika *benteng* itu runtuh, runtuh pula *kehormatannya*.
③ Kita tidak perlu *malu* dengan kegagalan, sebab kegagalan hanyalah *bukti* bahwa kita memiliki keberanian untuk *mencoba*.
④ *Malulah* saat kita menuntut hak dengan meng-gebu², namun *melalaikan* kewajiban dengan penuh *kesengajaan*.
⑤ Lebih baik menahan *malu* karena bertanya demi ilmu, daripada *menanggung* malu seumur hidup karena terikat dalam *kebodohan*.
⑥ Rasa *malu* pada tempatnya adalah *perhiasan* jiwa yang membuat seseorang *dihormati* tanpa perlu meminta.
⑦ *Rasulullahﷺ* bersabda :
*إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَافْعَلْ مَا شِئْتَ*.
Sesungguhnya di antara *ungkapan* yang dikenal manusia dari *perkataan* nabi-nabi terdahulu adalah : 'Jika kamu tidak mempunyai rasa *malu*, maka berbuatlah *sesukamu*. HR Bukhari. (zainuddin as).
Semoga kita selalu diberi petunjuk Allah
Sumber wag ust H Zainuddin

No comments:
Post a Comment