Kajian wag harian 26 Muharrom 1448H
*HAKIM 2* (11-07-'26)
*فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَرَجٗا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمٗا*
An-Nisa': 4:65
Maka demi Tuhanmu, mereka tidak *beriman* sebelum mereka menjadikan *engkau* (Muhammad) sebagai *hakim* dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa *keberatan* dalam hati mereka terhadap *putusan* yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.
Kata orang bijak :
Ketika *amarah* menguasai pikiran, kita kehilangan kemampuan untuk menjadi *hakim* yang adil bagi *situasi* yang sedang dihadapi.
(*When anger dominates the mind, we lose the ability to be a fair judge of the situation we are facing*.
*عِنْدَمَا يَسْتَوْلِي الْغَضَبُ عَلَى الْعَقْلِ، نَفْقِدُ الْقُدْرَةَ عَلَى أَنْ نَكُونَ حَكَمًا عَادِلًا لِلْمَوْقِفِ الَّذِي نُوَاجِهُهُ*).
① Sejarah akan menjadi *hakim* tertinggi yang menilai apakah *perjuangan* kita hari ini membawa *kebaikan* atau justru kehancuran.
② Pujian dan *cacian* manusia hanyalah angin lalu; jadikan *Tuhan* sebagai satu-satunya *hakim* atas ketulusan niatmu.
③ *Dunia* ini penuh dengan orang yang siap menjadi *hakim*, namun sangat kekurangan *jiwa* yang mau menjadi penolong.
④ Menjadi *hakim* atas kesalahan orang lain terasa mudah, sampai tiba saatnya *kita* sendiri yang duduk di kursi *terdakwa* kehidupan.
⑤ Kebenaran mungkin bisa *dimanipulasi* di hadapan *hakim* duniawi, namun ia tidak akan pernah bisa *mengelabui* Pengadilan Semesta.
⑥ Pengalaman hidup adalah *hakim* yang keras; ia memberikan *ujian* terlebih dahulu, baru kemudian memberikan *pelajaran* yang berharga.
⑦ *Rasulullahﷺ* bersabda :
*لَا يَقْضِيَنَّ حَكَمٌ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَهُوَ غَضْبَانُّ*.
Janganlah seorang *hakim* memutuskan perkara antara *dua* orang dalam keadaan *marah*. HR Bukhari. (zainuddin as).
Semoga kita selalu diberi petunjuk Allah
Sumber Wag ust H Zainuddin

No comments:
Post a Comment